Jumat, 25 Februari 2011

Sendiri . . .

Ada rasa yang terus menggelayut dalam kesendirianku. Dimana tak ada seorang pun yang menemaniku di sekitarku. Aku tak berbicara tentang tak mempunyai seorang teman, aku tak berbicara tentang tak mempunyai orang untuk berbagi cerita, aku tak berbicara tentang seseorang yang egois yang pentingkan dirinya sendiri, aku juga tak berbicara tentang seseorang yang ingin selamanya hidup dalam kesendirian.

Aku berbicara tentang sebuah keintiman yang kurasakan ketika aku berdiri, duduk, berjalan, dan merenung dalam kesendirian. Mereka-mereka yang menjadi temanku hanya dalam sebatas ingatan dan dalam angan. Aku membayangkan tentang duduk di depan perapian kecil yang hangat di tengah hutan pohon yang tinggi menjulang. Di tengah gelap hutan dan dengan segala misterinya aku berada sendirian di tengah-tengahnya, dan aku menatap di sekelilingku, tak ada seorang pun kecuali mata-mata binatang malam . . .

Keintiman pada diri sendiri ynag benar-benar akan membuat diriku mengenali diriku sendiri sebagaimana adanya. Tentang sebuah pengenalan diri, apa yang telah terjadi padaku di waktu lalu hingga bentuk diriku seperti saat ini. Kontemplasi dalam namun dangkal, perenungan yang akan bawaku pada-Nya, pada Tuhan. Aku ingin hanya berduaan denganNya.

Entah mengapa aku sangat menikmati hal-hal seperti ini. Menikmati saat-saat kesendirianku, saat-saat di mana orang-orang yang kusayangi meninggalkanku untuk sementara waktu (yang aku tahu mereka akan kembali lagi tentunya), dan seolah mereka meninggalkanku berduaan saja. Meninggalkan diriku dan meninggalkan aku. Seolah di hati kecil ini berkata “mereka pergi, mari kita bersenang-senang”. Entah, jarang sekali aku merasa kebingungan karena tak ada teman di sampingku. Jarang aku merasa kesepian semata-mata karena tak ada orang yang menemaniku hisap sebatang api kecil dan hirup harumnya kopi. Seolah aku merasa selalu mempunyai teman setia di sampingku, yaitu diriku, hatiku, jiwaku, sukmaku. Tak semua orang pahami hal ini, pahami bahwa kesendirian bagiku bukanlah kesendirian yang nelangsa. Tak banyak orang yang mau mengerti bahwa hubungan intim paling nikmat adalah hubungan kita dengan diri kita sendiri. Tapi aku tak begitu peduli dengan apa kata mereka. Selama aku benar-benar masih bisa menikmati keintiman dengan teman sejatiku ini, dengan teman yang aku berani bertaruh dengan nyawaku bahwa dia tak akan pernah khianatiku, aku tak akan ambil pusing apa kata orang. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah bentuk dari ego, tapi tidak bagiku. Ini adalah kesempatanku untuk kenali diriku sendiri. Aku tak akan pernah merasa kesepian dalam kesendirian.

Kawan, kesendirianku bukanlah berarti kesepian. Dan aku harap ada diantara kalian yang paham dan sadari hal ini. Kawan, kesendirian bukanlah alasan untuk merasa kesepian.

1 komentar:

Kumpulan sajak mengatakan...

sama dengan ku,,,

Translate

Entri Populer

Total Pengunjung

Pengikut