Selasa, 05 Juli 2011
Jenderal besar itu sudah masuk ke liang lahat. Buku kontroversi soal beliau pun, banyak yang bilang harus ditutup. Atau, mau tak mau terpaksa ditutup. Pro kontra baru muncul, diskusi yang kadang berubah jadi debat kusir, mewarnai polemik ini dan membuatnya tumbuh semakin melambung mengalahkan berita soal kemiskinan, bencana dan penggusuran yang masih terus terjadi.
soe.jpg
Usulan pengampunan soeharto muncul sejak beberapa saat si Jenderal terbaring lemah diantara peralatan medis yang saya yakin itu pasti sangat menyiksa. Setelah malaikat maut sukses melakukan tugasnya, kemudian muncul wacana baru untuk memberikan gelar kepahlawanan kepada si Jenderal.
Yang menjadi soal, tentu saja bukan masalah memberi maaf dan memberi gelar pahlawan. Itu persoalan gampang, “mayar” kalau orang Jogja selatan bilang. Bukan hanya soal korupsi dan uang negara yang ada di kaki-kaki pak Harto dan keluarga.
Tapi ada sebuah hal penting yang kita perlu sadari, bahwa negeri ini perlu pelurusan dan penjernihan sejarah.
Kasihan sekali rakyat negeri ini kelak, jika tidak mengerti sejarah negerinya sendiri. Buta atau dibutakan dengan apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini di masa silam. Darah siapakah yang dikurbankan untuk membangun pilar-pilar negeri ini. keringat siapakah yang digunakan sebagai penguat bangunan kokoh negeri ini. Berapa banyak orang harus kehilangan keluarga tanpa sebab jelas karena mencoba menyuarakan kebenaran.
Soalan yang terpenting sekarang adalah bagaimana kasus ini semua diungkap. proses hukum harus terus berjalan. Sebagai rakyat, kita pun memang tak bisa berbuat langsung karena memang tak punya wewenang.
Tapi ingat, kita punya hak untuk mengontrol.
Hak untuk melakukan kontrol sosial baik itu melalui tulisan, wacana, atau demonstrasi. Nah, soal cara demontrasi yang brutal dan lain sebagainya jangan menjadi penjegal hak orang lain untuk menyampaikan pendapat. Biarkan diskusi itu terus terjadi, wacana bergulir apa adanya. Jangan menganggap semangat menjernihkan sejarah ini sebagai upaya emosional yang kebablasan.
Ingatkah sampeyan dengan sebuah pepatah dangdut, “dia tidak cantik mak, dia tidak jelek mak, yang sedang-sedang saja“?
Sayangnya barisan kata sederhana itu tidak kita jiwai dalam tutur-laku hidup kita. Gemar sekali reaktif dan berlebihan. Kalau tak berlebihan menghujat, juga berlebihan memuji. Beberapa hari setelah sang jendral besar meninggalkan kita untuk selama-lamanya, sebuah harian nasional menulis “Mikul Kedhuwuren, Mendhem Kejeron“. Menjunjungnya terlalu tinggi, dan menimbunnya terlampau dalam. Plesetan yang jitu.
Saya hanya akan merasa heran jika kita akan melupakan Wiji Thukul yang sudah menjadi martir bagi perjuangan negeri ini? Atau masih perlu lusinan Marsinah dilenyapkan hanya karena berjuang menuntut hak-nya? Dipaksa menjadi kambing hitam atas nama propaganda anti buruh komunis? Perlu dipenggal lagi ratusan kepala tertuduh PKI dan Gerwani di Bali? Perlu episode lanjutan Kedung Ombo? Tanjung Priok? Cihideung Talangsari Lampung? Yang katanya demi stabilitas keamanan dan pembangunan negeri tercinta ini? Berapa episode operasi militer di Aceh yang perlu diulangi agar kita ingat?
Seberapa banyak lagi ‘bukti-bukti yang sering ditanyakan itu’ harus dibeber di kolom sempit blog ini? Pun sebenarnya saya yakin, di luar sana tertumpuk bermeter-meter dokumen yang bisa dibaca. Tapi kita malas, cih!
Sahabat sekaligus lawan saya pernah mengatakan, kalau “he give us many, but take away much more“. Sayang sekali, di saat ini, banyak yang menggemborkan, kalau jaman Soeharto dulu adalah jaman paling enak. Makan enak, pendidikan murah, bensin murah, pembangunan merata, harga bahan pokok murah, berhasil swasembada pangan, berhasil mendapat utang luar negeri, dst, dst…
…dan..zzzz….groook… kitapun tertidur lagi dalam mimpi membangun negeri yang sudah porak-poranda dan carut-marut ini. Dan di pojokan negeri ini, masih terus mengalir air mata janda-janda yang menangis karena sejarah yang hilang atas nama suami-suami mereka. Begitupula tanya anak-anak yang tak tahu bapaknya kemana, demi kestabilan keamanan nasional negeri ini kabarnya.
Selamat™, kita sudah ikut menenggelamkan bangsa kita dalam kebisuan sejarahnya sendiri.

0 komentar:

Translate

Entri Populer

Total Pengunjung

Pengikut